13
Jul
10

Setelah Pesta usai..

Dan pesta olahraga paling akbar itu sudah selesai. Juara Dunia baru sudah ada. Usai sudah hingar bingarnya selama sebulan ini. Usai sudah acara begadang setiap malam demi melaksanakan kewajiban menonton setiap menitnya. Dan saya sama sekali belum ngeblog tentang event olahraga paling saya suka ini😀

Saya kenal sepakbola pertama kali mungkin sekitar umur 8 tahunan. Di rumah opa tepatnya, ketika opa saya menonton AC Milan. Kalau tidak salah, itu pertama kali saya tahu nama-nama macam Ruud Gullit dan Van Basten. That’s it. Buat saya itu olahraga paling membosankan. 90 menit melihat 22 orang berebut bola, sungguh membosankan. Tidak ada yang special diperkenalan saya pertama kali itu.

Kemudian, 1994. Saya sedang menikmati liburan kenaikan sekolah, SMP kelas 2 waktu itu. Ditengah-tengah liburan, saya berniat menelpon teman saya via telepon umum, iya waktu itu belum jaman hp dan rumah saya belum memasang telepon rumah. Saya lupa waktu itu saya menelpon teman saya itu karena apa, yang pasti ditengah-tengah pembicaraan kami dia menyebutkan masalah Piala Dunia yang, well ternyata sedang digelar di USA sana. Katanya saya diminta melihat tim  sepakbola Italia waktu itu, dan lihat pemain bernomor punggung 3 yang katanya namanya Paolo Maldini. “Cakeeeep banget, stell..kamu liat deh..”, saya kutip.😀. Dan saya kembali ke rumah dengan sejuta penasaran. Hei..saya abegeh kelas 3 SMP, semua informasi tentang cowok2 cakep jelas informasi penting buat kami, ehhhehehe. Saya bertanya ke Papa saya, kapan Piala Dunia ditayangkan di tivi khususnya jadwal Itali bertanding. Instead of ngasih tau saya, Papa langsung memberi saya jadwal pertandingan sebulan penuh yang dia taruh di kantornya. Papa jelas jarang menonton bola di rumah karena well, dia cowok sendiri di rumah. Dan berbekal jadwal itu, selama sebulan penuh saya mulai memperhatikan acara ini. Event ini. Terutama pada timnas Italy. Dan ya, saya jatuh cinta. Dengan mudahnya pada sosok seorang Paolo Maldini. Dia pemain paling tampan menurut saya, bahkan sampai hari ini. Gara-gara kejatuhcintaan saya ini, akhirnya saya mulai mengikuti event ini, saya mulai melihat tidak hanya timnas Itali, tapi permainan tim-tim lain. Saya senang sekali waktu itu, ketika Italia yang saya cintai melaju sampai babak final. Dan saya sedih bukan main ketika mereka dikalahkan Brazil via adu penalty. Saya ingat sekali, final hari itu bertepatan dengan hari terakhir liburan sekolah saya. Keesokan harinya, ketika saya dating ke sekolah, saya menemukan teman-teman pria yang memasang tampang sukacita mereka karena Brazil jadi juara dunia, dan saya beserta 3 orang tema perempuan sedih bukan main karena Italia kalah.

Dan sejak saat itu, saya jadi memandang sepakbola dengan kacamata lain. Ini olahraga indah. Paling indah menurut saya. 22 orang bertanding untuk kejayaan negaranya. Sayangnya, entah kenapa saya tidak pernah bisa menyukai permainan sepakbola via liga-liga. Saya pernah mencoba, dengan AC Milan, Juventus, tapi hanya bertahan 1 season. Setelah itu saya bosan. Bukan apa-apa sih, menurut saya well mereka harus main bagus kalau di klub mau ga mau. Pemain-pemain itu dibayar tinggi kan?. Lain halnya dengan Piala Dunia. Di Piala Dunia, mereka bermain demi negaranya. Demi kehormatan dan kejayaan negaranya. Itu yang saya suka. Buat mereka, memakai seragam team nasional dan bertanding di Piala Dunia mungkin puncak dari karir mereka. Saya suka sekali dengan ini. Tak jarang saya ikut menangis waktu melihat team yang kalah dan harus tersingkir. Saya menangis waktu Itali harus pulang awal di Piala Dunia 2002 *sampai sekarang saya masih membenci Korea Selatan karena saya piker mereka diuntungkan wasit..:D *. Saya menangis melihat Ballack menangis waktu Jerman dikalahkan Italia di Semifinal 2006. Tapi waktu itu saya juga ikut gembira bukan main karena untuk pertama kalinya selama 12 tahun saya membaptis diri saya sebagai Tifosi Gli Azzuri, saya bisa melihat mereka masuk ke Final. Dan bayangkan betapa senangnya saya waktu Italia jadi juara waktu itu. Piala Dunia 2006 adalah momen paling magis buat saya sebagai fans berat Italia. Saya tidak berani melihat pertandingan Final waktu itu. 120 menit neraka buat saya. Dan ketika adu penalty terjadi, saya tiba-tiba jadi orang paling religious sedunia. KOmat kamit berdoa tidak ada hentinya. BAyangkan senangnya saya waktu penalty Trezequet Cuma membentur mistar gawang. Maigad, waktu itu saya teriak sekencangnya hingga membangunkan adik-adik saya yang sudah tidur dengan nyenyaknya. Dan ketika Grosso bersiap melakukan penalty terakhir, saya sama sekali tidak berani melihat. Saya menutup mata dan memutar tivi hingga tidak bersuara sama sekali. Dihitungan ke dua puluh saya membuka mata, tepat ketika Grosso menendang bola itu, saya menahan napas saya. Salah satu detik paling menegangkan buat saya seumur hidup sampai sekarang. Dan ketika bola itu masuk ke gawang Fabian Barthez, bayangkan gembiranya saya, kalikan 10juta kali bayangan anda itu..:)). Saya sama gembiranya dengan ratusan ribu Italiano di Circo Massimo, Roma waktu itu.

Dan paginya, ditengah-tengah Papa dan Om-om saya, plus saudara-saudara saya yang cowok, saya membanggakan kemenangan itu. Puas sekali waktu itu rasanya😀 . Saya satu-satunya pendukung Italy di keluarga saya yang jelas-jelas adalah pendukung Belanda.  Sejak 1994 sampai 2006 itu, hamper semua orang mengejek saya, ketika mengetahui bahwa saya tifosi Gli Azzuri. Buat mereka, saya jadi tifosi cuma karena itu tim yang  terkenal stok wajah tampannya.😀. Well, benar sih. Saya jatuh cinta karena wajah tampan Paolo Maldini, tapi dalam perjalanan saya malah tidak peduli dengan wajah-wajah tampan itu. Saya sedih jika mereka bermain jelek, dan kalah. Saya senang jika mereka menang. Tampan itu bonus😀 Saya tetap mendukung mereka no matter what. Saya masih punya Koran yang menulis tentang tim Juara Dunia 2006 kesayangan saya itu.

Piala Dunia 2010 juga seperti biasa saya nantikan. Dan iya, saya sedih Italia kalah di babak penyisihan grup, tapi ya sudah. Mereka kalah, karena permainan mereka memang tidak bagus. Tapi kalahnya Italia tidak membuat saya berganti membela tim lain. Ada untungnya juga Italia kalah, saya jadi bisa menikmati Piala Dunia dengan tidak memihak, saya bisa melihat tim-tim lain dengan segala gaya permainan mereka. Dan seperti yang lalu, saya menikmati.

Sekarang, seperti kata saya diawal, Pesta itu sudah usai, sudah selesai. Dan saya masih sama terpukaunya dengan pesta ini seperti ketika saya jatuh cinta pertama kalinya dengan Piala Dunia. Saya, mungkin juga sama seperti hampir ¾ penduduk bumi yang mengagungkan sepakbola akan menanti dengan sabar pesta ini 4 tahun lagi. Dan bersiap terpukau lagi. Bersiap dengan seluruh emosi yang saya punya.

Selamat untuk Spanyol, yang memang berhak memegang Juara Dunia tahun ini. Selamat juga untuk Belanda yang berani meninggalkan tradisi demi dan atas nama gelar Juara, walaupun gagal.

SEE YOU IN BRAZIL 2014 *moga2 kaos italy saya masih muat dipake saat itu :D*


19 Responses to “Setelah Pesta usai..”


  1. July 13, 2010 at 3:00 pm

    gilak..mbak stey bloger..masih ingat password..

    saya juventini. ndak akan berpaling hati..

  2. July 13, 2010 at 6:06 pm

    nggak pernah suka nonton bola😦

    • July 13, 2010 at 6:11 pm

      .ocha : wahh klo bisa jangan Cha..terlalu banyak memakan energi, emosi juga fisik..bayangin aja klo begadang sebulan penuh..muka dah pucat pasi persis Edward Cullen kurang kulit yang sparkling2nya😀

  3. July 13, 2010 at 8:42 pm

    Kisah cinta kitta serupa rupanya. Hanya saja dalam kasusku, Filippo Inzaghi yang membuatku jatuh cinta. Simply karena kami lahir pada tanggal yang sama hanya selisih satu angka, sepuluh tahun persisnya. Sejak itu aku jatuh cinta pada timnas Italia dan Juventus, bahkan ketika mas Pippo tak lagi bermain di sana.

    Piala Dunia kali ini memang berasa lebih enteng di hati setelah Itali tersingkir. Jadi penonton seutuhnya.Tidak merangkap sebagai supporter tim yang sedang berlaga. Aku bahkan bisa ikut menangis waktu Jepang tak lagi dapat melanjutkan ke babak selanjutnya.

    Sampai jumpa empat tahun lagi. Semoga Itali berbenah sehingga dapat menyuguhkan permainan yadan prestasi yang lebih baik dibandingkan episode kali ini.

    • July 13, 2010 at 11:18 pm

      .oelpha : huaaa..pippo..aku juga sempet, eh masih ding cinta sama itu orang..sempet seneng banget pas dia maen di AC Milan, bayangkan, Paolo Maldini & Fillipo Inzaghi dlm satu team??SURGA!! hahahaha…*lebay*

  4. July 13, 2010 at 11:42 pm

    Aku suka Italia waktu masih ada Roberto Baggio. Hmmm..aku ngga terlalu suka yang Club sukanya Piala dunia lebih gimana gitu, menguras emosi.

  5. July 14, 2010 at 7:26 pm

    ENGLANDDDDD!!!!

    *damn Capello DAMN*

    • July 15, 2010 at 9:17 am

      .partnerinvain : baggio di 1994 adalah pertama kali saya suka timnas ITALIA lewat Paolo Maldini..:D
      .didut : itu salah inggris, wis ngerti Capello kie wong italy yo di-hire..i think england should try to use their own coach deh, beside start to produce good keepers..:D

  6. 11 dhesha
    July 30, 2010 at 10:12 pm

    hihi..
    sempat jd juventini y mbak???
    sy msh jd juventini smpe skrg!
    forza la vechia signora..😀

  7. August 2, 2010 at 3:51 pm

    Waaah, world cup😀

    Saya baru kenal piala dunia itu di 1998, waktu itu di Prancis.. saya inget banget 1998 dengan maskot ayam jagonya. Saking penasarannya itulah kala pertamanya saya ke warnet hanya untuk melihat foto2 dan statistik dari pemain-pemain bola waktu itu. (Warnet masi sangat lambat, modem berbasis telepon sangat umum dan biayanya mencapai 7000/jam)

    Dan seperti biasa, entah kenapa selalu mendukung Brazil. Somehow mereka memiliki permainan yang enak dilihat, pemain-pemain bermuka yang tidak terlalu terlihat blagu ato banyak gaya.. muka-muka pemain brazil kalo ga culun ya pasti ndeso wkwk (sudah tentu saya ga mungkin nyari tim dengan alasan ada cowok gantengnya kan)

    Sampai sekarang juga masi support brazil😀

    Dan ya.. mendukung tim yang menang, anak kecil juga bisa. Tapi tetep mendukung timnya walau
    sudah kalah total di awal, itu baru supporter sejati.😀

  8. August 3, 2010 at 9:10 am

    .eru : padahal gw sempet sebel banget sama brazil setelah WC 1994..:D klo sekarang sih biasa aja, tapi tetep mendukung satu, mo menang mo kalah, pokoknya ITALY! *halah*

  9. August 4, 2010 at 11:57 pm

    Tulisan yang menarik mbak Stey. Salam kenal juga sesama Italiana. Viva la Vecchia Signora😀 jangan lupa mampir ya sesama sepenggal blogger tersisa…semoga blog saya blum terlalu basi *halah*

  10. August 5, 2010 at 8:55 am

    .aggy : hehehe..tapi aq dah lama g ngikutin liga2 gitu..btw, kemaren sempet blogwalk ke blog situ, tapi g ninggalin komen..:D

  11. November 4, 2010 at 10:43 am

    Untuk penulisan semenarik ini…saya heran postingan anda lainnya …kelihatan sepi…

  12. November 25, 2010 at 2:42 am

    forza INTER . wek *kabur*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: